1. Manfaat bagi kelompok adalah mendapatkan praktek lapangan sedangkan ada anggota yang tidak ikut dalam praktek micro teaching, bagaimana kelompok menanggapi hal tersebut?
Jawab:
Manfaat bagi kelompok seperti yang dipaparkan sebelumnya bukan sekedar manfaat saat melakukan praktek micro teaching secara langsung, melainkan dalam pelaksanaan perencanaan, observasi, melakukan micro teaching, dan juga pembuatan laporan. Selain itu, anggota kelompok yang datang juga ada berbagi pengalaman (sharing) dengan anggota-anggota kelompok lainnya yang berhalangan hadir. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa ini memang benar manfaat bagi semua anggota kelompok, meskipun ada anggota yang berhalangan untuk hadir.
2. Apakah tidak masalah dalam pelaksanaan microteaching jumlah anak adalah 3 orang sedangkan jumlah pengajar banyak?
Jawab:
Sebenarnya video yang ditampilkan hanyalah video pertemuan kedua. Kami melakukan pertemuan pertama dan pertemuan kedua dimana di pertemuan pertama setiap satu peserta didik dibimbing oleh satu pendidik. Memang di pertemuan kedua kami melakukan seperti yang didokumentasikan, tetapi hal tersebut menurut kelompok tidak terlalu ada masalah karena kami dapat mencairkan suasana yang awalnya cukup kaku menjadi “Fun” bagi peserta didiknya. Selain itu, peserta didik yang semakin aktif di pertemuan kedua ini membuat kami sangat senang dan enjoy dalam mengajarkan micro teaching.
RAJA MASPIN
1. Apakah manfaat pelaksanaan micro teaching bisa langsung bermanfaat bagi peserta didik?
Jawab:Mungkin kalau manfaat langsung kami kurang tahu, tetapi kami berusaha membantu peserta didik untuk lebih mengetahui, lebih mengenal, dan lebih mengerti bahasa Inggris atau istilahnya “menanam benih terlebih dahulu”.
OLGA SEPTANIA
1. Bagaimana dengan ongkos seperti yang tertulis dalam slide presentasi?
Jawab:
Mengenai ongkos termasuk dalam perencanaan kami, tetapi kenyataannya kami tidak menggunakan ongkos sebanyak yang tertera dalam slide presentasi.
KAK KARTIKA
1. Apa standar kompetensi yang digunakan kelompok dalam pelaksanaan micro teaching?
Jawab:
Agar mereka mampu menggunakan bahasa Inggris secara lisan dengan baik dan dapat mengucapkan organ-organ tubuh bagian luar dengan bahasa inggris, terutama organ-organ di bagian kepala.
LIA
1. Apa tidak berbeda dimana terdapat 3 orang anak dan mereka duduk di kelas yang berbeda-beda?
Jawab:
Dengan rentang usia mereka yang berbeda-beda, kami berusaha memberikan materi belajar yang memang sesuai dengan kemampuan mereka. Teori yang menjadi pegangan kami mungkin bisa menjadi guideline, namun dengan pengalaman yang sudah pernah dialami oleh beberapa anggota kelompok, kami memutuskan untuk memberikan materi berupa conversation singkat (perkenalan diri secara singkat) dan vocabulary yang cukup mudah. Tidak lupa kelompok mengingat usia mereka yang belum bisa berpikir secara abstrak, maka dalam proses belajar mengajar mentransformasikan hal abstrak ke hal yang konkrit. Dengan kata lain, materi yang kami berikan kepada ke-3 peserta didik kami sama dan bisa dipahami oleh mereka semua, tetapi kami memberikan materi tersebut dengan improvisasi-improvisasi dalam prosesnya sehingga tidak menimbulkan kebosanan bagi ke-3 peserta didik tersebut, terutama yang sudah duduk di kelas V SD.
RIZQA
1. Mengapa dalam pelaksanaan micro teaching tidak menggunakan anak didik Weilun, Steven, dan Venti di tempat kursus bila dalam kenyataannya jumlah anak yang tersedia untuk pelaksanaan micro teaching kurang banyak?
Jawab:
Sebenarnya memang bisa saja namun kami memiliki kendala yang cukup banyak diantaranya kesulitan meminta izin pada anak-anak di tempat les sedangkan saat itu mereka sedang menghadapi ujian semester, makanya tidak dapat menggunakan anak-anak didik Weilun dan Steven. Kendala berikutnya adalah lokasi les yang cukup jauh dari kampus ataupun dari rumah masing-masing anggota. Kendala-kendala inilah yang membuat kami untuk mempertimbangkan menggunakan anak didik Weilun, Steven, dan Venti dalam praktek micro teaching.
IBU DINA
1. Bagaimana dengan anggota yang tidak terlibat langsung dalam pelaksanaan micro teaching?
Jawab:
Untuk anggota yang tidak terlibat langsung dalam pelaksanaan micro teaching ada beberapa cara yang kami lakukan yaitu kami yang terlibat langsung dalam praktek micro teaching membagikan kepada mereka apa yang telah kami dapatkan selama praktek micro teaching. Tujuannya adalah supaya mereka bisa ikut merasakan hal tersebut. Kami juga memberikan tugas tambahan bagi anggota yang tidak hadir misalnya mengedit, membuat laporan, atau lainnya. Tujuan kami melakukan hal ini supaya semua anggota ikut berpartisipasi secara aktif dalam pelaksanaan tugas ini dan tiap anggota mendapatkan bagian yang sama serta adil.
2. Dalam video terlihat ketiga orang guru mengajar sambil berdiri pada tiga orang anak didik yang duduk di sofa. Bagaimana perilaku anak didik dan pendidik bila diobservasi?
Jawab:
Sebenarnya yang terlihat dalam video adalah pertemuan ke dua kelompok dengan perserta didik. Pertemuan pertama kelompok dengan peserta didik adalah untuk membentuk rapport dan mencari tahu kesulitan mereka dalam mata pelajaran yang ada dalam kurikulum. Di pertemuan pertama posisi antara peserta didik dan pendidik saling duduk berhadap-hadapan. Satu orang peserta didik dibimbing oleh satu pendidik. Kami berpendapat bahwa memang di pertemuan kedua seperti yang terlihat dalam video bahwa antara pendidik dan peserta didik memang terlihat agak kaku, formal dan posisi pengajar terlalu jauh dengan peserta didik padahal micro teaching tersebut tidak dilakukan di institusi formal, melainkan rumah. Akan tetapi, dalam prosesnya kelompok cukup bisa mencairkan suasana kaku tersebut sehingga di tengah sampai akhir pelaksanaan micro teaching, peserta didik menjadi sangat aktif.
3. Apa sebenarnya pengertian micro teaching bagi kelompok sendiri?
Jawab:
Pengertian micro teaching sebenarnya masih dangkal bagi kelompok. Pengertian micro teaching bagi kelompok pada awalnya hanya sebatas guru mengajar peserta didik dalam posisi dimana guru berdiri dan peserta didik duduk diam. Akan tetapi, setelah mendengarkan penjelasan dari Bu Dina, kelompok semakin mengerti apa yang menjadi esensi dari micro teaching tersebut dan kelompok menyadari kekurangan kelompok dalam hal seni mengajar yang harusnya merupakan esensi dari tugas micro teaching kali ini.
Observasi pertama dilakukan pada tanggal 15 April 2012. Kelompok mencoba sensasi baru dengan mengumpulkan anak – anak berumur sekitar 6 – 10 tahun di rumah terdekat lalu kelompok mengunjungi salah satu rumah murid untuk melihat dan mencari tahu kesulitan – kesulitan pelajaran yang mereka hadapi di sekolah. Berdasarkan hasil observasi kelompok mengetahui bahwa kesulitan pelajaran yang mereka hadapi di sekolah adalah pelajaran bahasa inggris, matematika dan kewarganegaraan. Dari ketiga pelajaran tersebut, yang menjadi masalah utama adalah bahasa Inggris, sedangkan pelajaran lainnya hanya ditemui pada beberapa murid. Kelompok memutuskan untuk mengajarkan bahasa inggris pada mereka dikunjungan pertama untuk mengetahui sejauh mana pemahaman mereka dikarenakan kelompok melihat mereka cukup lemah dalam berbahasa inggris. Dan kelompok merasa penting bahwa mereka perlu mengetahui lebih baik dalam berbahasa inggris dengan bahasa inggris yang sudah menjadi bahasa internasional akan memudahkan mereka dalam proses pembelajaran. Kelompok melakukan kunjungan kedua pada hari Sabtu, 21 April 2012 dengan tujuan untuk melihat sejauh mana perkembangan mereka.
PERENCANAAN
Konsep micro teaching
1. Landasan Teori
Mulai abad 21, proses pembelajaran dengan konsep micro teaching sudah sangat populer di dunia pendidikan, tetapi kebanyakan para pendidik kurang memahami makna pendidikan. Mereka selama ini hanya sebatas melakukan tugas mereka sebagai pengajar dan melupakan tugas utama mereka sebagai pendidik dan pembimbing. Untuk itulah, perlu diluruskan kembali makna dari proses pendidikan. Oleh karena itu, kami berusaha memahami konsep micro teaching melalui teori guru yang baik, seni dan ilmu mengajar serta paedagogi praktis. Seperti yang diketahui, paedagogi praktis tidak hanya mengetahui apa yang dituliskan di teori tapi dengan mengaplikasikannya dengan melaksanakan micro teaching ini. Bagi pendidik, paedagogi praktis tidak hanya berbicara mengenai seni mengajar melainkan juga mendorong banyak pendidik untuk mendesain ulang pemahaman akan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan kemajuan zaman. Pendidik harus mempertimbangkan pemberdayaan siswa sebagai penyambung generasi masa depan. Dengan adanya pedagogi praktis,maka konsep pedagogi yang abstrak bisa menjelma menjadi pedagogi yang konkrit yang artinya tidak hanya sekedar dipahami tetapi juga bagaimana cara mengaplikasikannya. Bagi peserta didik,mereka menjadi mampu memahami pedagogi yang konkrit ini dengan bimbingan guru yang baik.
Adapun ciri-ciri guru yang baik itu antara lain:
Memiliki kesadaran akan tujuan
Memiliki harapan akan keberhasilan bagi semua siswa
Mentoleransi ambiguitas
Menunjukkan kemampuan beradaptasi dan berubah untuk memenuhi kebutuhan siswa
Merasa kurang nyaman jika kurang mengetahui
Mencerminkan komitmen pada pekerjaan mereka
Belajar dari berbagai model
Menikmati pekerjaan dan siswa mereka sendiri.
Untuk menjadi guru yang baik maka pendidik seharusnya memilik beberapa kualitas seperti berikut:
Confidence
Patience
True compassion for their students
Understanding
The ability to look at life in a different way and to explain a topic in a different way
Dedication to excellence
Unwavering support
Willingness to help student achieve
Pride in student’s accomplishments
Passion for life
Apabila seorang guru sudah memilik beberapa ciri-ciri di atas,seorang guru tidak dituntut untuk hanya bisa memiliki pengetahuan teoritis yang tinggi. Tetapi seorang guru juga harus memiliki seni dalam ilmu mengajar. Maksudnya pendidik mampu memahamkan teori kepada peserta didiknya dengan cara yang unik dan menyenangkan. Interaksi yang terjadi diantara peserta didik dan pendidik tidak monoton. Maksudnya dalam proses pendidikan tidak hanya berasal dari guru saja tetapi bisa di dapat dari banyak cara. Dalam proses belajar-mengajar seorang guru tidak hanya ‘asik’ sendiri dalam proses pembelajaran. Tetapi mengajak siswanya untuk ikut berpikir. Selain itu, dalam proses micro teaching seorang guru yang sudah memenuhi ciri-ciri di atas, maka dalam hal meningkatkan motivasi peserta didik, pendidik dapat memberikan reward, baik berupa hadiah maupun pujian. Pendidik senantiasa tersenyum walaupun peserta didik membuat kesalahan agar mereka tidak merasa diremehkan.
2. Tujuan
Mengenalkan Bahasa Inggris melalui lisan
Mempermudah dalam mempelajari bahasa Inggris
Berusaha meningkatkan motivasi dan semangat belajar
3. Manfaat
Peserta didik
Mampu berbahasa Inggris yang baik dan benar
Mengerti bahwa belajar itu menyenangkan
Lebih termotivasi untuk belajar
Kelompok
Untuk dapat memiliki pengalaman mengajar langsung dan dapat mempraktekkan apa yang telah kelompok pelajari selama perkuliahan sehingga kelompok menjadi lebih bisa mengerti bagaimana menjadi guru yang baik dan bagaimana cara mengontrol peserta didik yang akan diajari.
4. Lokasi
Jl. Dr. Mansyur, Gang Sipirok No. 8C
5. Waktu
Minggu, 15 April 2012 pukul 15.00 – 18.00
Sabtu, 21 April 2012 pukul 12.05 – 15.00
6. Jadwal Kegiatan
14 April 2012: Perencanaan Konsep Micro Teaching
15 April 2012:
15.00 – 15.20 perkenalan
15.20 – 17.50 micro teaching
17.50 – 18.00 penutupan
21 April 2012:
12.10 – 12.20 perkenalan
12.20 – 14.45 micro teaching
14.45 – 15.00 penutupan
23 April 2012 - 29 April 2012: Pelaporan hasil kegiatan dan mengedit video
30 April 2012: Posting hasil kegiatan, evaluasi, dan video
7. Perlengkapan
Handphone
Kamera
Alat tulis
8. Perincian Biaya
Ongkos : 6000 x 7 = 42.000
Reward : 5000 x 4 = 20.000
Jumlah = Rp 62.000,00
PELAKSANAAN
Pelaksanaan micro teaching kelompok kami sesuai dengan perencanaan yang telah kami rencanakan. Kami melakukan kegiatan micro teaching di salah satu rumah di Jalan Dr. Mansyur Gg. Sipirok no.8c dengan mengumpulkan anak-anak berumur sekitar 6-10 tahun (kelas I, IV, V SD). Kunjungan pertama kami laksanakan pada hari Minggu,15 April 2012. Setiba di lokasi kami memulai pembicaraan dengan orangtua murid dan murid untuk membangun rapport. Setelah rapport mulai terbentuk dan anak sudah mulai bisa untuk menerima kami, kami pun langsung memulai proses mengajar. Awalnya kami mengajar murid satu per satu yang terdiri dari Ferdy, Ata, dan Nila serta membantu mereka memahami dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru mereka di sekolah. Keempat orang teman kami (Weillon, Steven, Eva, dan Fauzi) melihat dan mencari tahu kesulitan pelajaran yang mereka hadapi di sekolah sambil mengajari mereka. Kami menemukan bahwa mereka mengalami kesulitan pada pelajaran bahasa Inggris, Kewarganegaraan, dan Matematika. Akan tetapi, pelajaran yang paling tersulit untuk mereka bertiga adalah bahasa Inggris. Oleh karena itu, kelompok langsung mengajarkan bagaimana berbahasa inggris yang baik kepada mereka. Setelah kunjungan pertama yang kelompok lakukan pada tanggal 15 April 2012, kami terpikir untuk berkunjung kembali untuk memastikan apa yang telah kami ajarkan. Jadi sekali lagi tanggal 21 April 2012, kelompok melakukan kunjungan kedua dengan tujuan untuk melihat perkembangan mereka terhadap pelajaran bahasa Inggris mereka.
Kunjungan kedua kami laksanakan pada hari Sabtu, 21 April 2012. Kami memulai perjalanan dari kampus ke lokasi pada jam 12 siang dan tiba di sana sekitar jam 12.10. Setiba di lokasi kami menyapa dengan menyebut nama mereka dan mereka bersemangat menyambut kedatangan kami dengan menggunakan bahasa Inggris. Kami merasa senang tentunya, namun kami tetap membantu mereka meluruskan pronunciation yang masih kurang tepat. Pada kunjungan kedua ini, kelompok bermaksud untuk melihat perkembangan berbahasa mereka setelah kunjugan pertama kelompok tentang bagaimana berbahasa yang baik dan mengajarkan kembali kepada ketiga peserta didik tersebut (Ferdi, Ata, dan Nila) untuk berbicara dalam Bahasa Inggris (conversation). Kami mengajarkan mereka tentang bagaimana untuk memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris. Ketiga orang teman kami yaitu Weillun, Steven, dan Putri membimbing mereka dengan penuh kesabaran. Dimulai dengan kata “Hi” untuk memperkenalkan diri dan menjelaskan kepada mereka arti dari kata tersebut. Lalu berlanjut dengan mengucapkan salam yaitu “Good Afternoon” sambil tetap menjelaskan arti dari kata tersebut. Lalu berlanjut lagi dengan alamat rumah, nama sekolah, kelas, cita-cita dan diakhiri dengan sapaan untuk mengakhiri pembicaraan. Dalam mengajarkan conversation ini, tiap anak mendapatkan kesempatan yang sama untuk berbicara dan bila mereka berhasil mengucapkannya dengan benar kami akan bertepuk tangan dan tersenyum manis. Akan tetapi, bagi yang pengucapannya belum benar, kami tidak menghukum melainkan mengajarkan kembali kepada mereka bagaimana pengucapan yang benar hingga akhirnya mereka bisa mengucapkannya dengan benar.
Setelah selesai mengajarkan conversation tentang perkenalan diri, kami melanjutkan dengan belajar menyebutkan anggota tubuh dalam bahasa Inggris. Disini kami menunjuk salah satu bagian anggota tubuh dan mengatakan pada mereka nama anggota tubuh tersebut dalam bahasa Inggris dan meminta mereka untuk mengulangnya dengan tujuan supaya mereka dapat lebih mengingat nama tersebut. Misalnya Putri menunjuk hidung dan mengatakan “nose”, lalu menanyakan kembali kepada adik-adik tersebut sambil menunjuk hidung “ini apa adik-adik?” Lalu mereka menjawab “nose” dan begitu seterusnya. Dalam mengajarkan hal ini tentu saja kesabaran dibutuhkan karena kemampuan kognitif setiap orang berbeda-beda. Disamping itu untuk menghindari kebosanan selama proses micro teaching ini, kami mengadakan kuis kecil-kecilan yang memberikan reward bagi yang berhasil menjawab apa yang ditanyakan. Namun ketika mereka tidak berhasil menjawab dengan benar, mereka tetap diberi hadiah sambil diberitahukan jawaban yang benar. Di akhir sesi, senyuman terpancar dalam wajah mereka dan mereka berterima kasih kepada kami.
Kelompok merasa apa yang telah kami terapkan memang terbukti sesuai dengan teori, murid senang dengan guru yang bisa mengingat namanya, murid senang dengan guru yang murah senyum, baik, sabar dan tidak mudah marah dan membentak. Kunjugan kedua ini memberikan hasil yang cukup memuaskan, ketiga peserta didik bisa berbahasa Inggris dengan pronunciation yang baik. Oleh karena itu, bisa dilihat bahwa selama proses kegiatan micro teaching ini kami sebagai guru yang baik memiliki beberapa kualitas yaitu percaya diri yang ditunjukkan selama proses pengajaran, kesabaran, pemahaman, mendukung mereka sepenuhnya, dan memiliki kemauan untuk membantu mereka mencapai keberhasilan.
LAPORAN KEGIATAN
Dari mulai perencanaan dengan berdiskusi tentang konsep micro teaching kelompok, subjek yang menjadi target, dan landasan teori yang menjadi bukti empirik, hingga pada pelaksanaan yang cukup memuaskan menurut kelompok. Menurut kelompok, tanpa perencanaan yang matang serta anggota kelompok yang berkomitmen untuk menyelesaikannya, kelompok merasa ini pasti tidak akan selesai sesuai perencanaan yang sudah meliputi konsep, landasan teori, dan subjek paedagogi apabila ada satu saja kelompok yang tidak bertanggung jawab dan berkomitmen.
Dalam proses pelaksanaan, yang dimulai dari tahap observasi (perkenalan diri dengan subjek paedagogi kelompok) kelompok memulainya dengan “senyuman” dan “friendly approach” serta sering menyebutkan nama mereka saat proses micro teaching berlangsung dengan harapan bisa menimbulkan interaksi antara peserta didik dan pendidik. Obrolan singkat dengan peserta didik membuat kami mengetahui apa yang mereka butuhkan sehingga kelompok memutuskan untuk menyusun strategi apa yang sesuai dengan peserta didik demikian. Kelompok menggunakan konsep guru yang baik dimana sudah kelompok cantumkan dalam landasan teori. Sesuai dengan landasan teori kelompok sehingga kelompok mengaplikasikannya ke dalam micro teaching kali ini.
Beberapa dari ciri-ciri guru yang baik, yang sudah berhasil kelompok terapkan dalam kegiatan micro teaching ini, yaitu
1. Memiliki kesadaran akan tujuan
Dalam kegiatan micro teaching ini kelompok sadar akan tujuan yang dimiliki. Tujuannya adalah dapat menambah pengetahuan mereka mengenai bahasa Inggris dan memudahkan mereka mempelajari bahasa Inggris sehingga dapat bermanfaat untuk ke depannya.
2. Memiliki harapan akan keberhasilan bagi semua siswa
Seperti yang kita ketahui bahwa bahasa Inggris sudah menjadi bahasa Internasional, maka kami sangat berharap dengan pelajaran yang kami ajarkan ini dapat bermanfaat untuk keberhasilan mereka dalam mencapai cita-cita.
3. Mencerminkan komitmen pada pekerjaan mereka
Kelompok berkomitmen untuk mengajar dengan baik dan mengeluarkan kemampuan sepenuhnya untuk mengajar mereka sesuai dengan kemampuan yang dimiliki semksimal dan seoptimal mungkin.
4. Menikmati pekerjaan dan siswa
Kelompok sangat enjoy dalam membawakan materi bahasa Inggris kepada mereka. Kelompok menikmati proses dan juga interaksi yang terjadi diantara pendidik dengan mereka semua. Walaupun cukup susah dalam mengajarkan materi tersebut kepada mereka, tapi pendidik terus berusaha untuk memahamkan materi tersebut kepada mereka. Hal tersebut karena pendidik sangat menikmati tugas mengajar tersebut dan tidak lupa dicerminkan dalam bentuk perilaku sehingga mereka merasakan kesungguhan pendidik dalam proses belajar mengajar.
Hasil Pelaksanaan
Hasilnya adalah ketika diuji pada saat setelah pendidik selesai menjalankan tugasnya, dibentuklah sebuah kuis untuk menguji mereka dengan cara yang menyenangkan dan asik, yaitu dengan memberikan reward bagi yang berhasil maupun yang tidak berhasil menjawabnya dimana yang berhasil mendapat lebih banyak daripada yang tidak berhasil.
Namun yang menjadi pusat perhatian kelompok, bukanlah seberapa banyak hadiah yang dapat mereka terima, tetapi proses belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan bagi mereka sehingga memahami materi yang pendidik sampaikan dengan perasaan senang. Dan alhasil, pendidik berhasil membuat suasana belajar yang menyenangkan, mereka tidak hanya mampu menjawab dengan berani, tetapi terlihat senyuman rasa senang dan percaya diri yang tersirat dalam wajah dan mata mereka dimana pada awalnya kelompok tidak melihatnya. Ternyata bila mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh, orang lain yang menjadi objek perilaku dapat merasakan pengaruhnya.
Pendidik dalam kelompok kami yang dengan sabar mengajarkan materi pada mereka, menetapkan tujuan dari awal sebelum memberikan materi untuk dipelajari pendidik, selalu memberikan harapan pada peserta didiknya, berusaha meningkatkan motivasi, tidak merendahkan kemampuan mereka, berusaha mengerti apa yang sebenarnya yang diinginkan dan dibutuhkan oleh peserta didik. Di usia mereka yang tergolong “children” dimana anak – anak pada usia ini sudah bisa mengerjakan sesuatu dengan kemampuan sendiri, dalam hal ini melihat apakah mereka bisa mengembangkan sifat “autonomy” ataukah “shame and doubt”. Pendidik melihat apapun yang dapat diselesaikan peserta didik selalu dihargai dengan benar dan tepat. Jadi jika mereka memang “benar” maka mendapat pujian yang pantas, namun jika mereka “salah” atau “kurang tepat” mereka tidak dibentak atau dikatain, tetapi tetap mendapat pujian bahwa mereka hampir benar tinggal sedikit lagi. Dengan melakukan ini, kelompok berharap bisa mengembangkan sifat “autonomy” dalam diri daripada “shame and doubt”. Tidak lupa seiring dengan keberhasilan ataupun ketidakberhasilan mereka, pendidik tetap memberikan yang terbaik buat peserta didiknya.
Dengan menerapkan itu semua, kelompok bisa membangkitkan semangat belajar mereka dimana terbukti dalam kunjungan kedua kelompok, peserta didiknya menjadi sedikit rajin dan mulai terlihat percaya diri mulai menunjukkan rasa ingin tahu mereka dimana pada saat kunjungan pertama mereka tidak memberikan pertanyaan sebelum ditanyaain. Ada perbedaan kunjungan pertama dengan kunjungan kedua walupun tidak terlalu signifikan, tetapi tetap terjadi perubahan, dan tentunya ke arah yang lebih baik, kelompok berharap pendidik pada abad 21 ini lebih memerhatikan apa yang diinginkan dan dibutuhkan peserta didik, selalu melihat sudut pandang peserta didiknya dan selalu memberikan dukungan untuk peserta didiknya untuk berkembang sesuai dengan potensi atau bakat yang dimiliknya dengan tidak menjatuhkan peserta didiknya. “Children” bisa melihat “kesungguhan” kita walaupun usiannya yang masih muda. Oleh karena itu, bersungguh-sungguhlah dalam memberikan didikan kepada peserta didik agar mereka tahu bahwa kita memberikan yang terbaik untuk diri mereka, karena memang seperti beginilah seharusnya tugas dan tanggung jawab seorang pendidik.
Evaluasi
Pada saat perencanaan, kami sekelompok merasa seperti dikejar deadline karena belum mempersiapkan konsep sama sekali sampai pada tanggal 14 April 2012 sehingga perencanaan kurang matang dan kelompok kurang siap dalam memulai micro teaching di pertemuan pertama. Akibat perencanaan yang kurang matang tersebut, kami agak kewalahan ketika melakukan micro teaching di pertemuan pertama, seperti tidak mempersiapkan reward dan lain-lain. Di pertemuan kedua, kami juga mengalami sedikit kendala, dimana awalnya kelompok merencanakan mengajari 4 orang anak, namun ternyata yang bersedia mengikuti hanya 3 orang. Ditambah lagi, salah satu dari peserta didik kelompok masih terlalu muda untuk mengikuti materi yang sudah dipersiapkan oleh kelompok, sehingga kelompok harus berimprovisasi dalam memberikan materi. Ternyata improvisasi kami membuahkan hasil, anak-anak tambah semangat dan termotivasi dalam belajar bahasa Inggris. Awalnya kami berpikir bahwa anak-anak yang menjadi subjek kelompok sedikit lemah, namun ternyata mereka lumayan cepat tangkap. Hal tersebut memungkinkan bagi mereka untuk bisa berbahasa dengan baik dan benar. Ditambah lagi, mereka sangat patuh, aktif dan kooperatif sehingga kendala mengenai subjek kelompok dapat teratasi dengan baik.
Selain mengenai peserta didik, kendala yang dihadapi kelompok juga berupa peralatan yang digunakan dan masalah yang berasal dari anggota kelompok sendiri. Anggota kelompok yang sangat sibuk dengan urusan masing-masing membuat beberapa anggota kelompok tidak bisa hadir dalam micro teaching tersebut, sehingga kami harus memberikan tugas yang lebih banyak pada anggota yang hadir. Kamera yang digunakan juga tidak berkualitas bagus, sehingga dokumentasi audio visual yang kita dapatkan tidak terlalu sempurna dan hal ini mengakibatkan video editan kami tidak terlalu bagus.
Harapan kelompok
Harapan kelompok adalah bahwa pendidik pada abad 21 ini lebih memerhatikan apa yang diinginkandan dibutuhkan peserta didik, selalu melihat sudut pandang peserta didiknya dan selalu memberikan dukungan untuk peserta didiknya untuk berkembang sesuai dengan potensi atau bakat yang dimiliknya dengan tidak menjatuhkan peserta didiknya. “Children” bisa melihat “kesungguhan” kita walaupun usiannya yang masih muda. Oleh karena itu, bersungguh-sungguhlah dalam memberikan didikan kepada peserta didik agar mereka tahu bahwa kita memberikan yang terbaik untuk diri mereka, karena memang seperti beginilah seharusnya tugas dan tanggung jawab seorang pendidik.
Dokumentasi Audio Visual
Testimoni Tugas pedagogi kali ini membutuhkan perjuangan yang lumayan besar. Untuk menjadi seorang pengajar yang baik tidak mudah,dibutuhkan kesabaran dan trik-trik sendiri. Murid yang kami ajar tidak terlalu banyak,tetapi mengontrol dan membuat mereka supaya patuh sangat sulit sekali. Banyak pelajaran yang di dapat dari tugas ini, seperti dapat pengalaman baru, ilmu baru, dan teman baru meskipun saya sering bertemu tapi kami jarang berkomunikasi,tetapi setelah pelaksanaan tugas ini saya menjadi sering berkomunikasi dengan anak-anak itu. secara keseluruhan saya menikmati tugas ini.
kuliah hari ini sangat menambah pengetahuan khususnya dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Hari ini Ibu Dina rekomend situs http://www.e-dukasi.net/index.php. agak sedikit menyesal kenapa baru tau situs ini,seandainya dari kemarin-kemarin waktu sekolah kan bisa lebih maksimal lagi belajar. tapi ya sudahlah..
situs ini bagus untuk pangajar maupun pembelajar karena mereka bisa mengupdate pengatahuan mereka.
di situs ini kita bisabelajar kapan dan dimana pun kita berada.
SEMANGAT BELAJAR..^___^
Kuliah hari ini berbeda dari kuliah yang biasa saya lakukan. Judul kuliah hari ini diberi judul “Kuliah Trial-and-Error with E-learning method”. Awal perkuliahan ini dimulai dengan pengenalan websitewww.editgrid.com. Jujur saja saya baru tahu situs ini. Kami disuruh untuk Trial-and-Error situs ini,tetapi karena kami semua baru mengenal situs ini sehingga kami menemukan jalan buntu. Setelah semua jera akan situs ini,kemudian Bu Dina mengalihkan pembelajaran menjadi menggunakane-learning USU. Awalnya kami mengalami kesulitan tapi dengan terus mencoba dan berbagi pengetahuan akhirnya aplikasi ini bisa diterapkan. Letak nilai paedagogi pada pertemuan ini adalah pengampu mendatangi peserta didik satu peserta untuk mengetahui apa yang sudah dilakukan peserta didik.
Di dalam buku Pedagogi, Andragogi, dan Heutagogi oleh Prof. Dr. Sudarwan Danim,mengajar adalah sebuah ilmu dan ada juga yang mengatakan mengajar adalah seni. Tidak ada orang yang benar-benar persis sama di dunia inisehingga berbeda guru berbeda pula karakter dan gayanya dalam mengajar. Apa yang dilakukan Ibu Dina di dalam kelas paedagogi adalah sebuah seni mengajar yang memacu peserta didik untuk berpikir dan berusaha untuk mencari tahu,dengan tidak bergantung sepenuhnya pada pengajar.
Terima kasih telah bersedia menjadi keluarga kecilku,sebuah keluarga tempat berbagi suka,duka dan menghabiskan waktu bersama. Awalnya aneh mendapatkankan gelar "kakak" dari kalian, semoga harapan kalian akan seorang kakak bisa aku penuhi. love you guys...may Allah Bless Us Until The End Of Time
About Me
Ahmad Fauji Tarigan
medan, sumatera utara, Indonesia
Namaku Ahmad Fauji Tarigan bisa disingkat menjadi AFaTar,AFGan juga bisa kok
hehehehehe
lahir dari keluarga yang sederhana,memiliki seorang abang dan dua orang adik yang membuat hidup di rumah menjadi lebih ramai. Ayah dan Ibu yang luar biasa hebat.
saat ini aku sedang memperdalam ilmu Psikologi. awalnya aku tak pernah berpikir ada di sini,tetapi kini aku sangat menikmati hidupku kareana Allah selalu punya rencana indah dalam setiap hidupku ^___^