Selasa, 11 September 2012

BAB 5 KONDISI BELAJAR ROBERT GAGNE


Keterampilan, apresiasi, penalaran manusia, dengan semua variasinya, harapan, aspirasi, sikap ,nilai-nilai manusia, perkembangannya sebagian besar bergantung pada peristiwa yang disebut dengan belajar.( Gagnẻ,1985,h.1)
Asumsi dasar dari teori Gagnẻ mendeskripsikan sifat unik dari kegiatan belajar dan defenisinya. Asumsinya,: belajar dan pertumbuhan tidak boleh disamakan satu sama lain; belajar adalah faktor kausal penting dalam perkembangan individual; banyak hasil belajar manusia digeneralisasikan ke dalam berbagai situasi; belajar keterampilan yang kompleks didasarkan pada pembelajaran sebelumnya; dan belajar bukan proses tunggal.

Komponen Belajar
Pendekatan Gagnẻ dalam mengembangkan prinsip belajar. Pertama, pemahaman tentang kapabilitas manusia karena sifat dari hasil belajar akan menentukan parameter proses belajar. Kedua, belajar dan pembelajaran bukan titik perhatian yang terpisah,keduanya harus berjalan beriringan. 
Macam-macam belajar. Lima variasi yang dianggap Gagnẻ memenuhi kriteria adalah informasi verbal,keterampilan intelektual,keterampilan motorik,sikap,dan strategi kognitif. Lima variasi belajar ini akan mempresentasikan hasil belajar.
Sembilan tahapan belajar dibagi menjadi tiga tahapan umum
1.      Persiapan belajar. Tahapan ini bertujuan mempersiapkan diri  untuk belajar seperti memperhatikan stimuli untuk belajar,membangun harapan, dan mengambil informasi yang relevan dan keterampilan dari ingatan jangka panjang untuk dimasukkan ke ingatan kerja. Biasanya tahapan ini hanya membutuhkan waktu beberapa menit.
2.      Akuisisi dan kinerja. Pada tahapan ini memungkinkan penyimpanan stimulus penting secara temporer di dalam ingatan kemudian memberi makna (encoding) dan mentrasfer informasi ke ingatan jangka panjang,tahap ini adalah tahap sentral dan penting dalam belajar. Kegiatan inti dari belajar diakhiri dengan kinerja atau konfirmasi belajar baru. Pembelajaran mengambil kode baru disimpan di memori jangka panjang dan memberi respon.  Langkah selanjutnya adalah memberikan tanggapan. Arti penting dari tanggapan ini adalah untuk memperkuat pembelajaran ketika ia mengkonfirmasi kan bahwa tujuan telah dicapai atau dikuasai.
3.      Transfer belajar. Tahapan terakhir dari pembelajaran mencakup kesempatan untuk mengaplikasikan aktivitas belajar ke dalam situasi baru dan mengkonstruksikannya untuk diingat kembali. Tahapan ini juga melahirkan petunjuk tambahan untuk pengingatan kapabilitas di masa depan.

Hakikat Belajar yang Kompleks
Analisis belajar Gagne memcakup dua organisasi kapabilitas yang merepresentasikan belajar yang kompleks. Dua organisasi itu adalah prosedur dan hierarki belajar.

Prosedur
          Sebuah prosedur adalah:
a.  Seperangkat tindakan yang harus dilakukan sesuai urutan atau secara langkah demi langkah, dan
b. Organisasi keterampilan yang mencakup keterampilan motorik/gerak dan keterampilan intelektual (Gagne, 1985, h. 262). Contohnya adalah menulis cek, menyeimbangkan neraca, dan memarkir kendaraan.

Hierarki Belajar
          Hierarki belajar adalah “seperangkat kapabilitas intelektual tertentu yang memiliki kaitan berurutan satu sama lain (Gagne, 1985, h. 262). Artinya, setiap keterampilan atau kapabilitas adalah penting untuk mempelajari keterampilan yang lebih tinggi di urutan selanjutnya. Tipe keterampilan komponen dan kontruksi hierarki belajar.

Tipe Keterampilan Komponen
Ringkasan Keterampilan Intelektual dari yang Sederhana ke yang Kompleks
Tipe Kapabilitas
Deskripsi
Contoh
Belajar Diskriminasi.
Merespon secara berbeda pada karakteristik yang membedakan objek, seperti bentuk, ukuran, warna.
Membedakan gambar segitiga tertutup dan gambar geometris lainnya.
Belajar konsep/konsep konkret.
Mengidentifikasi objek atau kegiatan sebagai anggota dari satu konsep, belajar melalui pertemuan langsung dengan contoh konkret.
Mengidentifikasi berbagai bentuk segitiga, dari segitiga yang tinggi sampai lebar.
Konsep yang didefinisikan.
Belajar aturan klasifikasi (konsepnya adalah abstrak; tidak ada contoh konkret).
Belajar bahwa patriotisme mengacu pada situasi yang merefleksikan cinta atau semangat untuk membela negara.
Belajar Aturan.
Merespons satu kelompok situasi dengan kelompok kinerja yang mempresentasikan kaitan.
Menjawab 5+2, 6+1, dan 9+4 dengan menjumlahkan 2+5, 1+6, dan 4+9.
Belajar kaidah yang lebih tinggi (pemecahan masalah).
Memilih aturan subordinat dari ingatan untuk memcahkan masalah dan mengaplikasikannya pada urutan yang tepat.
Memecahkan persamaan linier dengan satu persamaan tersamar.

Menyusun Hierarki Belajar
          Mengembangkan hierarki belajar diawali dengan pernyataan yang jelas tentang tujuan akhir dari pembelajaran, misalnya untuk pengurangan bilangan bulat. Tujuan ini kemudian dianalisis menjadi keterampilan subordinat sehingga keterampilan leveln rendah dapat diprediksi akan menimbulkan transfer positif ke keterampilan yang lebih tinggi di dalam hierarki tersebut (Gagne, 1986b, h. 1).
          Karakteristik esensial dari hierarki belajar adalah mereka merupakan organisasi keterampilan psikologis. Suatu hierarki belajar bukanlah urutan informasi logis atau deskripsi cara pengetahuan varbal diperoleh (Gagne, 1968b).
          Keterbatasan hierarki belajar adalah hierarki ini tidak selalu merepresentasikan urutan dari belajar baru di dalam kelas. Meski demikian, hierarki belajar, dengan mengidentifikasi keterampilan prasyarat, dapat mereduksi kebutuhan akan remediasi dan memberikan hasil proses di dalam kurikulum.

PRINSIP PEMBELAJARAN

Asumsi Dasar
          Asumsi Gagne tentang pembelajaran di kelas mencakup sifat dari pembelajaran dan proses yang disebut sebagai desain pembelajaran.
Definisi Instruksi
          Belajar dapat terjadi baik karena ada ataupun tidak adanya kegiatan pembelajarab (Gagne, 1987a, h. 400). Karakteristik kedua dari pembelajaran adalah ia tidak memiliki tujuan tunggal. Ketiga keputusan tentang pembelajaran harus dibuat dalam konteks keterampilan atau keterampilan yang akan dipelajari.

Hakikat Desain Pembelajaran
          Fokus dalam prinsip Gagne adalah pembelajaran, bukan sekadar pengajaran sederhana. Maksudnya adalah untuk menangani semua kejadian yang mungkin memengaruhi belajar individual (Gagne & Briggs, 1979).

Komponen Pembelajaran
          Penopang teori adalah lima variasi belajar. Mereka berfungsi sebagai kerangka acuan untuk mengidentifikasi kapabilitas atau kapabilitas-kapabilitas yang merupakan hasil dari pembelajaran tertentu.

Mendesain Tujuan Kinerja
          Fungsi tujuan kinerja (performance objective) adalah sebagai pernyataan yang tegas tentang kapabilitas yang akan di pelajari. Istilah seperti memahami, mengerti, dan mengapresiasi harus diganti dengan istilah yang lebih tepat yang secara jelas mengkomunikasi keterampilan atau sikap yang hendak dipelajari.

Saran Kata Kerja untuk Jenis Belajar
Kapabilitas
Kata Kerja
Informasi
Menyatakan, mendefinisikan, menguraikan dengan kata-kata sendiri.
Keterampilan motorik
Melakukanm mengerjakan, memberlakukan, mengucapkan.
Sikap
Memutuskan untuk... bebas untuk memilih... memilih (aktivitas yang disukai)
Siasat Kognitif
Menentukan cara (strategi)
Keterampilan Intelektual
  Membedakan
  Konsep

  Aturan
  Kaidah tingkat tinggi

Memilih (yang sama dan yang beda).
Mengidentifikasi (contoh), mengklasifikasi (ke dalam kategori).
Menunjukkan, memprediksi, menjabarkan.
Menghasilkan (penyelesaian satu masalah), memcahkan.

Memilih Kegiatan Instruksional

Kaitan antara Tahapan Belajar dengan Peristiwa Pembelajaran
Deskripsi
Tahapan Belajar
Kegiatan Pembelajaran
Persiapan belajar
1.    Mengarahkan perhatian.




2.    Ekspektasi.

3.    Retrieval (pengambilan informasi dan/atau keterampilan yang relevan) untuk dimasukkan ke ingatan kerja.
Menarik perhatian siswa dengan menggunakan kejadian tidak seperti biasanyam pertanyaan atau perubahan stimulus.
Memberitahu tujuan belajar kepada pemelajar.
Merangsang ingatan atas belajar yang telah dipelajari sebelumnya.
Akuisisi dan kinerja
4.    Persepsi selektif atas ciri stimulus.
5.    Penyandian semantik.

6.    Retrieval dan respons.

7.    Penguatan.
Menyajikan stimulus dengan ciri yang berbeda.
Memberikan bimbingan belajar.
Memunculkan kinerja.
Memberi balikan informatif.
Transfer Belajar
8.    Pemberian petunjuk retrieval.
9.    Generalisasi.
Menilai perbuatan/kinerja.

Memunculkan kinerja dengan contoh baru.


Pemerolehan dan Kinerja.
          Kegiatan inti dari pembelajaran adalah menyajikan stimulus tertentu, menyediakan pedoman belajar, memunculkan kinerja, dan memberikan tanggapan atau umpan balik (feedback).

Peran Penemuan Terbimbing.
          Siswa dapat merespons seluruh kelompok situasi dengan sekelompok kinerja yang merefleksikan kaitan khusus dengan situasi stimulus. Misalnya, setelah mempelajari penyerdehanaan bilangan pecahan, siswa dapat mengaplikasikan aturan untuk tugas itu dalam setiap situasi.

Retrieval dan Transfer.
          Guru dan perancang pembelajaran memilih pernyataan verbalm pertanyaan, objek, diagram, dan stimuli lainnya untuk menstimulasi pemrosesan informasi secara internal oleh pemelajar.

Keterterapan dalam Berbagai Ragam Belajar.
          Peristiwa untuk tujuan kinerja pada umumnya dipilih berdasarkan ragam belajar yang dipresentasikan oleh tujuan. Tetapi mengingat keragaman siswa serta kompleksitas informasi, keterampilan, strategi, atau sikap yang hendak dipelajari, peristiwa pembelajaran ini diberikan sesuai keperluan.

Peran Media dalam Pembelajaran
          Model seleksi media berguna untuk mengembangkan pemikiran seseorang tentang berbagai macam media untuk pembelajaran. Seseorang tidak memilih media lebih dulu, seperti televisi atau computer, dan kemudian mendesain pembelajaran, sebaliknya, media dipilih yang sesuai dengan persyaratan dari kegiatan pembelajaran tertentu.

Merancang Pembelajaran untuk Keterampilan yang Kompleks

Rancangan Pembelajaran untuk Prosedur
Langkah pertama dalam mengembangkan pembelajaran untuk keterampilan yang kompleks adalah menentukan keterampilan yang akan diajarkan.  Keterampilan motorik dalam urutan ini kemudian dianalisi menjadi bagian-bagian ketermapilan yang juga mungkin perlu diajarkan. Untuk beberapa prosedur, pilihan antara langkah-langkah alternatif mungkin akan diperlukan. Setelah keterampilan, bagian keterampilan, dan keterampilan intelektual diidentifikasi, jenis kapabilitas dari masing-masing keterampilan akan diidentifikasi. Tujuan kinerja kemudian ditulis untuk setiap keterampilan dan dirancanglah pembelajaran untuk seperangkat tujuan.

Rancangan Pemebelajarna untuk Hirarki Belajar
Bagian dalam bab tentang hakikat belajar kompleks ini membahas analisis tugas belajar, metode menyusun hierarki belajar.pertanyaan tentang “keterampilan sederhana apa yang penting untuk keterampilan saat ini”, diaplikasikan pertama kali ke hampir semua keterampilan kompleks yang diajarkan, dan kemudian ke keterampilan lain yang teridentifikasi.

Analisi Tugas Kognitif
Analisis tugas kognitif, yang adalah perluasan dari analisa tugas tradisional, digunakan untuk menangani analisi proses mental, pengetahuan dan tujuan, serta keputusan yang mendasari berbagai tindakan yang diamati. Langkah utama dalam analisis tugas :
1.      Mengumpulkan informasi awal
2.      Mengidentifikasi representasi pengetahuan
3.      Mengimplementasikan teknik untuk memunculkan pengetahuan
4.      Menganalisis dan memverifikasi data
5.      Memformat hasil untuk digunakan
 
Aplikasi Pendidikan

Isu Kelas
Pendekatan Gagne untuk analisis belajar adalah dari perspektif kebutuhan pembelajaran. Akibatnya, karyanya membahas beberapa isu penting dalam kelas.

Karakteristik Pemelajar
Perbedaan Individual. Efektivitas pembelajaran dipengaruhi oleh beberapa macam perbedaan individual antarsiswa.termasuk didalamnya adalah perbedaan strategi kognitif dan tingkat belajar. Tetapi, yang paling penting adalah perbedaan dalam kapabilitas awal siswa, yaitu materi mentah yang menjadi garapan pembelajaran (Gagne, 1974a, h. 125). Mereka dapat dinilai pada awal tahun ajaran sekolah atau awal pelajaran. Untuk memperkecil hal ini, dapat dilakukan pembelajaran kelompok kecil, tutorial, dan diindividualisasikan.
Motivasi. Mendesain pembelajaran yang efektif mencakup identifikasi motif siswa dan penyaluran motif itu ke kegiatan yang produktif dalam rangka mencapau tuuan belajar (Gagne 1974a).

Proses Kognitif dan Pembelajaran
Transfer Belajar. Prasyarat esensial dalam keterampilan intelektual membantu transfer melalui 2 cara, kontribusi pada upaya mempelajari urutan lebih tinggi dan menggeneralisasikan ke situasi lain. Pada akhir belajar, situasi baru disajikan ke siswa untuk memastikan bahwa pencapaian belajar baru mereka tidak terbatas pada situasi.
Keterampilan “Bagaimana Cara Belajar”. Keterampilan ini adalah strategi kognitif, dimana siswa memakainya untuk mengelola belajarnya, mengingat, dan berpikir.
Pengajaran Pemecahan Masalah. Dalam strategi kognitif, pemelajar menciptakan sendiri solusi yang mungkin membutuhkan seleksi informasi dari berbagai macam sumber dan kombinasi informasi dengan cara baru.

Implikassi untuk Asesmen
Kapabilitas kelompok kinerja manusia itu unik, yaitu informasi verbal, keterampilan intelektual, strategi kognitif, keterampilan motorik, dan sikap.
Konteks Sosial untuk Belajar
Gagne memfokuskan pada rancangan sistem pembelajaran ketimbang pada pengembangan model pembelajaran. Perbedaan utamanya adalah model pembelajaran meletakkan guru atau individu pada peran pelaku atau pengelola konstruksi untuk beberapa kelompok belajar yang teridentifikasi. Sistem pembelajaran sebaliknya, sering mencakup seperangkat materi dan aktivitas yang dengannya langkah dan manajemen pembelajaran berada pada diri pemelajar.

Mengembangkan Strategi Kelas

Model Perancangan Sistem
Ciri-cirinya pembelajarannya :
1.      Dirancang untuk tujuan dan sasaran spesifik
2.      Pengembangannya menggunakan media dan teknologi pembelajaran lain.
3.      Uji coba, revisi material, dan pengujian lapangan atas material yang merupakan bagian integral dari proses perancangan.
Kaitan antara belajar pada tingkat pembelajran dan pelajaran diilustrasikan dengan tujuan berikut :
1.      Tujuan peajaran : siswa dapat menganalisis secara kritis kegiatan dan situasi dalam sistem pengadilan, pemerintah, ekonomi dan politik suatau negara, yang konsisten dengan prioritas yang diidentifikasi negara itu.
2.      Tujuan unit : siswa daat menunjukkan hubungan antara sistem politik dengan ekonomi.
3.      Subketerampilan spesifik : siswa bisa mengklasifikasikan sistem sebagai politik atau ekonomi.

Merancang Pelajaran
Langkah 1 : menulis atau memilih tujuam kerja
Langkah 2 : memilih kegiatan pembelajaran untuk masing-masing tujuan kerja
Langkah 3 : memilih media untuk kegiatan pembelajaran
Langkah 4 : mengembangkan tes untuk ujian

Kelemahan
Gagne mengembangkan teori kondisi belajar untuk menjelaskan berbagai macam proses psikologi dan terlihat didalam riset tentang belajar sebelmnya dan untuk menspesifikasi dengan tepat uruta kegiatan pembelajaran untuk proses yang teridentifikasi. Jadi teori ini lebih mudah untuk tim perancang kurikulum ketimbang untuk dipakai guru dikelas.


Kamis, 21 Juni 2012

Evaluasi Kinerja Mata Kuliah Pedagog


Terimakasih saya ucapkan kepada Ibu Filia Dina Anggaraeni yang telah bersedia untuk berbagi ilmu bersama kami. Banyak pelajaran yang bisa saya petik dari perkuliahan ini,salah satunya adalah belajar untuk menjadi guru yang baik. Banyak suka dan suka selama perkuliah ini,saya pribadi menyadari duka yang saya rasakan itu diakibatkan kelalaian saya sendiri.
Kesan
Kesan yang saya rasakan selama perkuliahan ini adalah enam bulan melakukan perkuliahan tetapi kita bisa menyelamatkan puluhan bahkan ratusan pohon (Re : Go Green ). Ya,karena selama perkuliah menggunakan metode pembelajaran e-learning. Terima kasih ibu sudah mengajarkan banyak hal tentang ini semoga perkuliahan-perkuliahan pada nyusul menyelamatkan bumi.
Kritik
Secara keseluruhan saya sudah merasa nyaman,tugasnya oke,kuliahnya oke,dosennya juga oke. Hanya saja masalahnya di diri saya yang menunda-nunda pekerjaan makanya jadi kewalahan.
Pesan
Tetap berkarya dan selalu melakukan yang lebih baik ya bu ke depannya.
Untuk teman-teman perjuangan di MK.Pedagogi ini terimakasih buat kerja samanya,semoga kita mendapatkan nilai yang terbaik. Jangan sampai ilmu itu mati di tangan kita berbagilah dengan teman-teman yang lain yang belum sempat menikmati kuliah ini karena dengan berbagi ilmu itu akan bertambah =)

Minggu, 17 Juni 2012

UAS MK.Paedagogi T.A 2011-2012

Kamis, 14 Juni 2012

Review Presentasi Micro Teaching

KELOMPOK 7

Pertanyaan dan Jawaban Presentasi 
REZA YOGA 
1. Manfaat bagi kelompok adalah mendapatkan praktek lapangan sedangkan ada anggota yang tidak ikut dalam praktek micro teaching, bagaimana kelompok menanggapi hal tersebut? 
Jawab:
Manfaat bagi kelompok seperti yang dipaparkan sebelumnya bukan sekedar manfaat saat melakukan praktek micro teaching secara langsung, melainkan dalam pelaksanaan perencanaan, observasi, melakukan micro teaching, dan juga pembuatan laporan. Selain itu, anggota kelompok yang datang juga ada berbagi pengalaman (sharing) dengan anggota-anggota kelompok lainnya yang berhalangan hadir. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa ini memang benar manfaat bagi semua anggota kelompok, meskipun ada anggota yang berhalangan untuk hadir. 

2. Apakah tidak masalah dalam pelaksanaan microteaching jumlah anak adalah 3 orang sedangkan jumlah pengajar banyak? 
Jawab:
Sebenarnya video yang ditampilkan hanyalah video pertemuan kedua. Kami melakukan pertemuan pertama dan pertemuan kedua dimana di pertemuan pertama setiap satu peserta didik dibimbing oleh satu pendidik. Memang di pertemuan kedua kami melakukan seperti yang didokumentasikan, tetapi hal tersebut menurut kelompok tidak terlalu ada masalah karena kami dapat mencairkan suasana yang awalnya cukup kaku menjadi “Fun” bagi peserta didiknya. Selain itu, peserta didik yang semakin aktif di pertemuan kedua ini membuat kami sangat senang dan enjoy dalam mengajarkan micro teaching. 

RAJA MASPIN
1. Apakah manfaat pelaksanaan micro teaching bisa langsung bermanfaat bagi peserta didik? 
Jawab:Mungkin kalau manfaat langsung kami kurang tahu, tetapi kami berusaha membantu peserta didik untuk lebih mengetahui, lebih mengenal, dan lebih mengerti bahasa Inggris atau istilahnya “menanam benih terlebih dahulu”.

OLGA SEPTANIA
1. Bagaimana dengan ongkos seperti yang tertulis dalam slide presentasi? 
Jawab:
Mengenai ongkos termasuk dalam perencanaan kami, tetapi kenyataannya kami tidak menggunakan ongkos sebanyak yang tertera dalam slide presentasi.

KAK KARTIKA
1. Apa standar kompetensi yang digunakan kelompok dalam pelaksanaan micro teaching?
Jawab:
Agar mereka mampu menggunakan bahasa Inggris secara lisan dengan baik dan dapat mengucapkan organ-organ tubuh bagian luar dengan bahasa inggris, terutama organ-organ di bagian kepala.

LIA 
1. Apa tidak berbeda dimana terdapat 3 orang anak dan mereka duduk di kelas yang berbeda-beda?
Jawab:
Dengan rentang usia mereka yang berbeda-beda, kami berusaha memberikan materi belajar yang memang sesuai dengan kemampuan mereka. Teori yang menjadi pegangan kami mungkin bisa menjadi guideline, namun dengan pengalaman yang sudah pernah dialami oleh beberapa anggota kelompok, kami memutuskan untuk memberikan materi berupa conversation singkat (perkenalan diri secara singkat) dan vocabulary yang cukup mudah. Tidak lupa kelompok mengingat usia mereka yang belum bisa berpikir secara abstrak, maka dalam proses belajar mengajar mentransformasikan hal abstrak ke hal yang konkrit. Dengan kata lain, materi yang kami berikan kepada ke-3 peserta didik kami sama dan bisa dipahami oleh mereka semua, tetapi kami memberikan materi tersebut dengan improvisasi-improvisasi dalam prosesnya sehingga tidak menimbulkan kebosanan bagi ke-3 peserta didik tersebut, terutama yang sudah duduk di kelas V SD. 

RIZQA
1. Mengapa dalam pelaksanaan micro teaching tidak menggunakan anak didik Weilun, Steven, dan Venti di tempat kursus bila dalam kenyataannya jumlah anak yang tersedia untuk pelaksanaan micro teaching kurang banyak? 
Jawab:
Sebenarnya memang bisa saja namun kami memiliki kendala yang cukup banyak diantaranya kesulitan meminta izin pada anak-anak di tempat les sedangkan saat itu mereka sedang menghadapi ujian semester, makanya tidak dapat menggunakan anak-anak didik Weilun dan Steven. Kendala berikutnya adalah lokasi les yang cukup jauh dari kampus ataupun dari rumah masing-masing anggota. Kendala-kendala inilah yang membuat kami untuk mempertimbangkan menggunakan anak didik Weilun, Steven, dan Venti dalam praktek micro teaching.

IBU DINA
1. Bagaimana dengan anggota yang tidak terlibat langsung dalam pelaksanaan micro teaching?
Jawab:
Untuk anggota yang tidak terlibat langsung dalam pelaksanaan micro teaching ada beberapa cara yang kami lakukan yaitu kami yang terlibat langsung dalam praktek micro teaching membagikan kepada mereka apa yang telah kami dapatkan selama praktek micro teaching. Tujuannya adalah supaya mereka bisa ikut merasakan hal tersebut. Kami juga memberikan tugas tambahan bagi anggota yang tidak hadir misalnya mengedit, membuat laporan, atau lainnya. Tujuan kami melakukan hal ini supaya semua anggota ikut berpartisipasi secara aktif dalam pelaksanaan tugas ini dan tiap anggota mendapatkan bagian yang sama serta adil.
2. Dalam video terlihat ketiga orang guru mengajar sambil berdiri pada tiga orang anak didik yang duduk di sofa. Bagaimana perilaku anak didik dan pendidik bila diobservasi?
Jawab:
Sebenarnya yang terlihat dalam video adalah pertemuan ke dua kelompok dengan perserta didik. Pertemuan pertama kelompok dengan peserta didik adalah untuk membentuk rapport dan mencari tahu kesulitan mereka dalam mata pelajaran yang ada dalam kurikulum. Di pertemuan pertama posisi antara peserta didik dan pendidik saling duduk berhadap-hadapan. Satu orang peserta didik dibimbing oleh satu pendidik. Kami berpendapat bahwa memang di pertemuan kedua seperti yang terlihat dalam video bahwa antara pendidik dan peserta didik memang terlihat agak kaku, formal dan posisi pengajar terlalu jauh dengan peserta didik padahal micro teaching tersebut tidak dilakukan di institusi formal, melainkan rumah. Akan tetapi, dalam prosesnya kelompok cukup bisa mencairkan suasana kaku tersebut sehingga di tengah sampai akhir pelaksanaan micro teaching, peserta didik menjadi sangat aktif.

3. Apa sebenarnya pengertian micro teaching bagi kelompok sendiri?
Jawab:
Pengertian micro teaching sebenarnya masih dangkal bagi kelompok. Pengertian micro teaching bagi kelompok pada awalnya hanya sebatas guru mengajar peserta didik dalam posisi dimana guru berdiri dan peserta didik duduk diam. Akan tetapi, setelah mendengarkan penjelasan dari Bu Dina, kelompok semakin mengerti apa yang menjadi esensi dari micro teaching tersebut dan kelompok menyadari kekurangan kelompok dalam hal seni mengajar yang harusnya merupakan esensi dari tugas micro teaching kali ini.

Rabu, 16 Mei 2012

Micro Teaching(revisi)


KELOMPOK 7 

TEMA: English For Fun 

OBSERVASI 
Observasi pertama dilakukan pada tanggal 15 April 2012. Kelompok mencoba sensasi baru dengan mengumpulkan anak – anak berumur sekitar 6 – 10 tahun di rumah terdekat lalu kelompok mengunjungi salah satu rumah murid untuk melihat dan mencari tahu kesulitan – kesulitan pelajaran yang mereka hadapi di sekolah. Berdasarkan hasil observasi kelompok mengetahui bahwa kesulitan pelajaran yang mereka hadapi di sekolah adalah pelajaran bahasa inggris, matematika dan kewarganegaraan. Dari ketiga pelajaran tersebut, yang menjadi masalah utama adalah bahasa Inggris, sedangkan pelajaran lainnya hanya ditemui pada beberapa murid. Kelompok memutuskan untuk mengajarkan bahasa inggris pada mereka dikunjungan pertama untuk mengetahui sejauh mana pemahaman mereka dikarenakan kelompok melihat mereka cukup lemah dalam berbahasa inggris. Dan kelompok merasa penting bahwa mereka perlu mengetahui lebih baik dalam berbahasa inggris dengan bahasa inggris yang sudah menjadi bahasa internasional akan memudahkan mereka dalam proses pembelajaran. Kelompok melakukan kunjungan kedua pada hari Sabtu, 21 April 2012 dengan tujuan untuk melihat sejauh mana perkembangan mereka. 

PERENCANAAN
Konsep micro teaching 
1. Landasan Teori 
Mulai abad 21, proses pembelajaran dengan konsep micro teaching sudah sangat populer di dunia pendidikan, tetapi kebanyakan para pendidik kurang memahami makna pendidikan. Mereka selama ini hanya sebatas melakukan tugas mereka sebagai pengajar dan melupakan tugas utama mereka sebagai pendidik dan pembimbing. Untuk itulah, perlu diluruskan kembali makna dari proses pendidikan. Oleh karena itu, kami berusaha memahami konsep micro teaching melalui teori guru yang baik, seni dan ilmu mengajar serta paedagogi praktis. Seperti yang diketahui, paedagogi praktis tidak hanya mengetahui apa yang dituliskan di teori tapi dengan mengaplikasikannya dengan melaksanakan micro teaching ini. Bagi pendidik, paedagogi praktis tidak hanya berbicara mengenai seni mengajar melainkan juga mendorong banyak pendidik untuk mendesain ulang pemahaman akan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan kemajuan zaman. Pendidik harus mempertimbangkan pemberdayaan siswa sebagai penyambung generasi masa depan. Dengan adanya pedagogi praktis,maka konsep pedagogi yang abstrak bisa menjelma menjadi pedagogi yang konkrit yang artinya tidak hanya sekedar dipahami tetapi juga bagaimana cara mengaplikasikannya. Bagi peserta didik,mereka menjadi mampu memahami pedagogi yang konkrit ini dengan bimbingan guru yang baik. 

Adapun ciri-ciri guru yang baik itu antara lain:
  • Memiliki kesadaran akan tujuan
  • Memiliki harapan akan keberhasilan bagi semua siswa
  • Mentoleransi ambiguitas
  • Menunjukkan kemampuan beradaptasi dan berubah untuk memenuhi kebutuhan siswa 
  • Merasa kurang nyaman jika kurang mengetahui
  • Mencerminkan komitmen pada pekerjaan mereka
  • Belajar dari berbagai model
  • Menikmati pekerjaan dan siswa mereka sendiri. 

Untuk menjadi guru yang baik maka pendidik seharusnya memilik beberapa kualitas seperti berikut:
  • Confidence
  • Patience
  • True compassion for their students
  • Understanding
  • The ability to look at life in a different way and to explain a topic in a different way
  • Dedication to excellence
  • Unwavering support 
  • Willingness to help student achieve
  • Pride in student’s accomplishments
  • Passion for life

Apabila seorang guru sudah memilik beberapa ciri-ciri di atas,seorang guru tidak dituntut untuk hanya bisa memiliki pengetahuan teoritis yang tinggi. Tetapi seorang guru juga harus memiliki seni dalam ilmu mengajar. Maksudnya pendidik mampu memahamkan teori kepada peserta didiknya dengan cara yang unik dan menyenangkan. Interaksi yang terjadi diantara peserta didik dan pendidik tidak monoton. Maksudnya dalam proses pendidikan tidak hanya berasal dari guru saja tetapi bisa di dapat dari banyak cara. Dalam proses belajar-mengajar seorang guru tidak hanya ‘asik’ sendiri dalam proses pembelajaran. Tetapi mengajak siswanya untuk ikut berpikir. Selain itu, dalam proses micro teaching seorang guru yang sudah memenuhi ciri-ciri di atas, maka dalam hal meningkatkan motivasi peserta didik, pendidik dapat memberikan reward, baik berupa hadiah maupun pujian. Pendidik senantiasa tersenyum walaupun peserta didik membuat kesalahan agar mereka tidak merasa diremehkan. 

2. Tujuan
  • Mengenalkan Bahasa Inggris melalui lisan
  • Mempermudah dalam mempelajari bahasa Inggris
  • Berusaha meningkatkan motivasi dan semangat belajar 

3. Manfaat
Peserta didik
  • Mampu berbahasa Inggris yang baik dan benar
  • Mengerti bahwa belajar itu menyenangkan
  • Lebih termotivasi untuk belajar

Kelompok 
  • Untuk dapat memiliki pengalaman mengajar langsung dan dapat mempraktekkan apa yang telah kelompok pelajari selama perkuliahan sehingga kelompok menjadi lebih bisa mengerti bagaimana menjadi guru yang baik dan bagaimana cara mengontrol peserta didik yang akan diajari. 

    4. Lokasi 
    Jl. Dr. Mansyur, Gang Sipirok No. 8C 

    5. Waktu 
    Minggu, 15 April 2012 pukul 15.00 – 18.00 
    Sabtu, 21 April 2012 pukul 12.05 – 15.00 

    6. Jadwal Kegiatan 
    14 April 2012: Perencanaan Konsep Micro Teaching 
    15 April 2012:
    • 15.00 – 15.20 perkenalan
    • 15.20 – 17.50 micro teaching
    • 17.50 – 18.00 penutupan 

    21 April 2012:
    • 12.10 – 12.20 perkenalan
    • 12.20 – 14.45 micro teaching
    • 14.45 – 15.00 penutupan 

    23 April 2012 - 29 April 2012: Pelaporan hasil kegiatan dan mengedit video 
    30 April 2012: Posting hasil kegiatan, evaluasi, dan video

    7. Perlengkapan
    • Handphone
    • Kamera
    • Alat tulis 

    8. Perincian Biaya 
    • Ongkos : 6000 x 7 = 42.000 
    • Reward : 5000 x 4 = 20.000 
    • Jumlah = Rp 62.000,00 

    PELAKSANAAN
    Pelaksanaan micro teaching kelompok kami sesuai dengan perencanaan yang telah kami rencanakan. Kami melakukan kegiatan micro teaching di salah satu rumah di Jalan Dr. Mansyur Gg. Sipirok no.8c dengan mengumpulkan anak-anak berumur sekitar 6-10 tahun (kelas I, IV, V SD). Kunjungan pertama kami laksanakan pada hari Minggu,15 April 2012. Setiba di lokasi kami memulai pembicaraan dengan orangtua murid dan murid untuk membangun rapport. Setelah rapport mulai terbentuk dan anak sudah mulai bisa untuk menerima kami, kami pun langsung memulai proses mengajar. Awalnya kami mengajar murid satu per satu yang terdiri dari Ferdy, Ata, dan Nila serta membantu mereka memahami dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru mereka di sekolah. Keempat orang teman kami (Weillon, Steven, Eva, dan Fauzi) melihat dan mencari tahu kesulitan pelajaran yang mereka hadapi di sekolah sambil mengajari mereka. Kami menemukan bahwa mereka mengalami kesulitan pada pelajaran bahasa Inggris, Kewarganegaraan, dan Matematika. Akan tetapi, pelajaran yang paling tersulit untuk mereka bertiga adalah bahasa Inggris. Oleh karena itu, kelompok langsung mengajarkan bagaimana berbahasa inggris yang baik kepada mereka. Setelah kunjungan pertama yang kelompok lakukan pada tanggal 15 April 2012, kami terpikir untuk berkunjung kembali untuk memastikan apa yang telah kami ajarkan. Jadi sekali lagi tanggal 21 April 2012, kelompok melakukan kunjungan kedua dengan tujuan untuk melihat perkembangan mereka terhadap pelajaran bahasa Inggris mereka. 
    Kunjungan kedua kami laksanakan pada hari Sabtu, 21 April 2012. Kami memulai perjalanan dari kampus ke lokasi pada jam 12 siang dan tiba di sana sekitar jam 12.10. Setiba di lokasi kami menyapa dengan menyebut nama mereka dan mereka bersemangat menyambut kedatangan kami dengan menggunakan bahasa Inggris. Kami merasa senang tentunya, namun kami tetap membantu mereka meluruskan pronunciation yang masih kurang tepat. Pada kunjungan kedua ini, kelompok bermaksud untuk melihat perkembangan berbahasa mereka setelah kunjugan pertama kelompok tentang bagaimana berbahasa yang baik dan mengajarkan kembali kepada ketiga peserta didik tersebut (Ferdi, Ata, dan Nila) untuk berbicara dalam Bahasa Inggris (conversation). Kami mengajarkan mereka tentang bagaimana untuk memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris. Ketiga orang teman kami yaitu Weillun, Steven, dan Putri membimbing mereka dengan penuh kesabaran. Dimulai dengan kata “Hi” untuk memperkenalkan diri dan menjelaskan kepada mereka arti dari kata tersebut. Lalu berlanjut dengan mengucapkan salam yaitu “Good Afternoon” sambil tetap menjelaskan arti dari kata tersebut. Lalu berlanjut lagi dengan alamat rumah, nama sekolah, kelas, cita-cita dan diakhiri dengan sapaan untuk mengakhiri pembicaraan. Dalam mengajarkan conversation ini, tiap anak mendapatkan kesempatan yang sama untuk berbicara dan bila mereka berhasil mengucapkannya dengan benar kami akan bertepuk tangan dan tersenyum manis. Akan tetapi, bagi yang pengucapannya belum benar, kami tidak menghukum melainkan mengajarkan kembali kepada mereka bagaimana pengucapan yang benar hingga akhirnya mereka bisa mengucapkannya dengan benar. 
    Setelah selesai mengajarkan conversation tentang perkenalan diri, kami melanjutkan dengan belajar menyebutkan anggota tubuh dalam bahasa Inggris. Disini kami menunjuk salah satu bagian anggota tubuh dan mengatakan pada mereka nama anggota tubuh tersebut dalam bahasa Inggris dan meminta mereka untuk mengulangnya dengan tujuan supaya mereka dapat lebih mengingat nama tersebut. Misalnya Putri menunjuk hidung dan mengatakan “nose”, lalu menanyakan kembali kepada adik-adik tersebut sambil menunjuk hidung “ini apa adik-adik?” Lalu mereka menjawab “nose” dan begitu seterusnya. Dalam mengajarkan hal ini tentu saja kesabaran dibutuhkan karena kemampuan kognitif setiap orang berbeda-beda. Disamping itu untuk menghindari kebosanan selama proses micro teaching ini, kami mengadakan kuis kecil-kecilan yang memberikan reward bagi yang berhasil menjawab apa yang ditanyakan. Namun ketika mereka tidak berhasil menjawab dengan benar, mereka tetap diberi hadiah sambil diberitahukan jawaban yang benar. Di akhir sesi, senyuman terpancar dalam wajah mereka dan mereka berterima kasih kepada kami. 
    Kelompok merasa apa yang telah kami terapkan memang terbukti sesuai dengan teori, murid senang dengan guru yang bisa mengingat namanya, murid senang dengan guru yang murah senyum, baik, sabar dan tidak mudah marah dan membentak. Kunjugan kedua ini memberikan hasil yang cukup memuaskan, ketiga peserta didik bisa berbahasa Inggris dengan pronunciation yang baik. Oleh karena itu, bisa dilihat bahwa selama proses kegiatan micro teaching ini kami sebagai guru yang baik memiliki beberapa kualitas yaitu percaya diri yang ditunjukkan selama proses pengajaran, kesabaran, pemahaman, mendukung mereka sepenuhnya, dan memiliki kemauan untuk membantu mereka mencapai keberhasilan. 

    LAPORAN KEGIATAN
    Dari mulai perencanaan dengan berdiskusi tentang konsep micro teaching kelompok, subjek yang menjadi target, dan landasan teori yang menjadi bukti empirik, hingga pada pelaksanaan yang cukup memuaskan menurut kelompok. Menurut kelompok, tanpa perencanaan yang matang serta anggota kelompok yang berkomitmen untuk menyelesaikannya, kelompok merasa ini pasti tidak akan selesai sesuai perencanaan yang sudah meliputi konsep, landasan teori, dan subjek paedagogi apabila ada satu saja kelompok yang tidak bertanggung jawab dan berkomitmen.
    Dalam proses pelaksanaan, yang dimulai dari tahap observasi (perkenalan diri dengan subjek paedagogi kelompok) kelompok memulainya dengan “senyuman” dan “friendly approach” serta sering menyebutkan nama mereka saat proses micro teaching berlangsung dengan harapan bisa menimbulkan interaksi antara peserta didik dan pendidik. Obrolan singkat dengan peserta didik membuat kami mengetahui apa yang mereka butuhkan sehingga kelompok memutuskan untuk menyusun strategi apa yang sesuai dengan peserta didik demikian. Kelompok menggunakan konsep guru yang baik dimana sudah kelompok cantumkan dalam landasan teori. Sesuai dengan landasan teori kelompok sehingga kelompok mengaplikasikannya ke dalam micro teaching kali ini. 

    Beberapa dari ciri-ciri guru yang baik, yang sudah berhasil kelompok terapkan dalam kegiatan micro teaching ini, yaitu
    1. Memiliki kesadaran akan tujuan 
    Dalam kegiatan micro teaching ini kelompok sadar akan tujuan yang dimiliki. Tujuannya adalah dapat menambah pengetahuan mereka mengenai bahasa Inggris dan memudahkan mereka mempelajari bahasa Inggris sehingga dapat bermanfaat untuk ke depannya.
    2. Memiliki harapan akan keberhasilan bagi semua siswa 
    Seperti yang kita ketahui bahwa bahasa Inggris sudah menjadi bahasa Internasional, maka kami sangat berharap dengan pelajaran yang kami ajarkan ini dapat bermanfaat untuk keberhasilan mereka dalam mencapai cita-cita.
    3. Mencerminkan komitmen pada pekerjaan mereka 
    Kelompok berkomitmen untuk mengajar dengan baik dan mengeluarkan kemampuan sepenuhnya untuk mengajar mereka sesuai dengan kemampuan yang dimiliki semksimal dan seoptimal mungkin.
    4. Menikmati pekerjaan dan siswa 
    Kelompok sangat enjoy dalam membawakan materi bahasa Inggris kepada mereka. Kelompok menikmati proses dan juga interaksi yang terjadi diantara pendidik dengan mereka semua. Walaupun cukup susah dalam mengajarkan materi tersebut kepada mereka, tapi pendidik terus berusaha untuk memahamkan materi tersebut kepada mereka. Hal tersebut karena pendidik sangat menikmati tugas mengajar tersebut dan tidak lupa dicerminkan dalam bentuk perilaku sehingga mereka merasakan kesungguhan pendidik dalam proses belajar mengajar. 

    Hasil Pelaksanaan 
    Hasilnya adalah ketika diuji pada saat setelah pendidik selesai menjalankan tugasnya, dibentuklah sebuah kuis untuk menguji mereka dengan cara yang menyenangkan dan asik, yaitu dengan memberikan reward bagi yang berhasil maupun yang tidak berhasil menjawabnya dimana yang berhasil mendapat lebih banyak daripada yang tidak berhasil. 
    Namun yang menjadi pusat perhatian kelompok, bukanlah seberapa banyak hadiah yang dapat mereka terima, tetapi proses belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan bagi mereka sehingga memahami materi yang pendidik sampaikan dengan perasaan senang. Dan alhasil, pendidik berhasil membuat suasana belajar yang menyenangkan, mereka tidak hanya mampu menjawab dengan berani, tetapi terlihat senyuman rasa senang dan percaya diri yang tersirat dalam wajah dan mata mereka dimana pada awalnya kelompok tidak melihatnya. Ternyata bila mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh, orang lain yang menjadi objek perilaku dapat merasakan pengaruhnya. 
    Pendidik dalam kelompok kami yang dengan sabar mengajarkan materi pada mereka, menetapkan tujuan dari awal sebelum memberikan materi untuk dipelajari pendidik, selalu memberikan harapan pada peserta didiknya, berusaha meningkatkan motivasi, tidak merendahkan kemampuan mereka, berusaha mengerti apa yang sebenarnya yang diinginkan dan dibutuhkan oleh peserta didik. Di usia mereka yang tergolong “children” dimana anak – anak pada usia ini sudah bisa mengerjakan sesuatu dengan kemampuan sendiri, dalam hal ini melihat apakah mereka bisa mengembangkan sifat “autonomy” ataukah “shame and doubt”. Pendidik melihat apapun yang dapat diselesaikan peserta didik selalu dihargai dengan benar dan tepat. Jadi jika mereka memang “benar” maka mendapat pujian yang pantas, namun jika mereka “salah” atau “kurang tepat” mereka tidak dibentak atau dikatain, tetapi tetap mendapat pujian bahwa mereka hampir benar tinggal sedikit lagi. Dengan melakukan ini, kelompok berharap bisa mengembangkan sifat “autonomy” dalam diri daripada “shame and doubt”. Tidak lupa seiring dengan keberhasilan ataupun ketidakberhasilan mereka, pendidik tetap memberikan yang terbaik buat peserta didiknya. 
    Dengan menerapkan itu semua, kelompok bisa membangkitkan semangat belajar mereka dimana terbukti dalam kunjungan kedua kelompok, peserta didiknya menjadi sedikit rajin dan mulai terlihat percaya diri mulai menunjukkan rasa ingin tahu mereka dimana pada saat kunjungan pertama mereka tidak memberikan pertanyaan sebelum ditanyaain. Ada perbedaan kunjungan pertama dengan kunjungan kedua walupun tidak terlalu signifikan, tetapi tetap terjadi perubahan, dan tentunya ke arah yang lebih baik, kelompok berharap pendidik pada abad 21 ini lebih memerhatikan apa yang diinginkan dan dibutuhkan peserta didik, selalu melihat sudut pandang peserta didiknya dan selalu memberikan dukungan untuk peserta didiknya untuk berkembang sesuai dengan potensi atau bakat yang dimiliknya dengan tidak menjatuhkan peserta didiknya. “Children” bisa melihat “kesungguhan” kita walaupun usiannya yang masih muda. Oleh karena itu, bersungguh-sungguhlah dalam memberikan didikan kepada peserta didik agar mereka tahu bahwa kita memberikan yang terbaik untuk diri mereka, karena memang seperti beginilah seharusnya tugas dan tanggung jawab seorang pendidik. 

    Evaluasi 
    Pada saat perencanaan, kami sekelompok merasa seperti dikejar deadline karena belum mempersiapkan konsep sama sekali sampai pada tanggal 14 April 2012 sehingga perencanaan kurang matang dan kelompok kurang siap dalam memulai micro teaching di pertemuan pertama. Akibat perencanaan yang kurang matang tersebut, kami agak kewalahan ketika melakukan micro teaching di pertemuan pertama, seperti tidak mempersiapkan reward dan lain-lain. Di pertemuan kedua, kami juga mengalami sedikit kendala, dimana awalnya kelompok merencanakan mengajari 4 orang anak, namun ternyata yang bersedia mengikuti hanya 3 orang. Ditambah lagi, salah satu dari peserta didik kelompok masih terlalu muda untuk mengikuti materi yang sudah dipersiapkan oleh kelompok, sehingga kelompok harus berimprovisasi dalam memberikan materi. Ternyata improvisasi kami membuahkan hasil, anak-anak tambah semangat dan termotivasi dalam belajar bahasa Inggris. Awalnya kami berpikir bahwa anak-anak yang menjadi subjek kelompok sedikit lemah, namun ternyata mereka lumayan cepat tangkap. Hal tersebut memungkinkan bagi mereka untuk bisa berbahasa dengan baik dan benar. Ditambah lagi, mereka sangat patuh, aktif dan kooperatif sehingga kendala mengenai subjek kelompok dapat teratasi dengan baik. 
    Selain mengenai peserta didik, kendala yang dihadapi kelompok juga berupa peralatan yang digunakan dan masalah yang berasal dari anggota kelompok sendiri. Anggota kelompok yang sangat sibuk dengan urusan masing-masing membuat beberapa anggota kelompok tidak bisa hadir dalam micro teaching tersebut, sehingga kami harus memberikan tugas yang lebih banyak pada anggota yang hadir. Kamera yang digunakan juga tidak berkualitas bagus, sehingga dokumentasi audio visual yang kita dapatkan tidak terlalu sempurna dan hal ini mengakibatkan video editan kami tidak terlalu bagus. 

    Harapan kelompok 
    Harapan kelompok adalah bahwa pendidik pada abad 21 ini lebih memerhatikan apa yang diinginkandan dibutuhkan peserta didik, selalu melihat sudut pandang peserta didiknya dan selalu memberikan dukungan untuk peserta didiknya untuk berkembang sesuai dengan potensi atau bakat yang dimiliknya dengan tidak menjatuhkan peserta didiknya. “Children” bisa melihat “kesungguhan” kita walaupun usiannya yang masih muda. Oleh karena itu, bersungguh-sungguhlah dalam memberikan didikan kepada peserta didik agar mereka tahu bahwa kita memberikan yang terbaik untuk diri mereka, karena memang seperti beginilah seharusnya tugas dan tanggung jawab seorang pendidik.


    Dokumentasi Audio Visual
    Testimoni
    Tugas pedagogi kali ini membutuhkan perjuangan yang lumayan besar. Untuk menjadi seorang pengajar yang baik tidak mudah,dibutuhkan kesabaran dan trik-trik sendiri. Murid yang kami ajar tidak terlalu banyak,tetapi mengontrol dan membuat mereka supaya patuh sangat sulit sekali. 
    Banyak pelajaran yang di dapat dari tugas ini, seperti dapat pengalaman baru, ilmu baru, dan teman baru meskipun saya sering bertemu tapi kami jarang berkomunikasi,tetapi setelah pelaksanaan tugas ini saya menjadi sering berkomunikasi dengan anak-anak itu. 
    secara keseluruhan saya menikmati tugas ini.